Ketua PCNU Ketapang: Masjid Harus Menjadi Pusat Peradaban dan Pelayan Umat

Ketapang, InfoKetapang – Mengangkat tema Revitalisasi Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban dan Pelayan Umat, PCNU Ketapang selenggarakan Workshop Manajemen Masjid bertempat di lantai 3 Gedung Bintang 9 NU Ketapang, pada Senin (13/5/224) lalu.

Workshop dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Ketapang H. Farhan. Hadir juga di acara pembukaan tersebut, perwakilan Kantor Kemenag Ketapang, Kabag Kesra Setda Ketapang, Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziah beserta jajaran pengurus, pengurus Dewan Masjid Indonesia Ketapang.

Narasumber pada kegiatan Workshop, panitia menghadirkan dari PBNU sebanyak tiga orang yaitu KH. Hudallah Ridwan, K. Mahmudi dan K. Ziaul Haq. Kemudian Ketua PCNU Ketapang H. Satuki Huddin.

Ketua Panitia H. Samin Lasio dalam laporannya mengatakan undangan peserta terdiri dari pengurus masjid di wilayah Kecamatan Delta Pawan dan Benua Kayong sebanyak 100 orang.

“Materi yang dibahas dalam Workshop ini adalah Peran strategis Masjid dalam mewujudkan tatanan Masyarakat yang
Rahmatan Lil ‘Alamin. Kemudian Dinamika pengelolaan dan pelayanan Masjid sebagai basis Pelayanan Umat yang Rahmatan Lil “Alamin,” jelas Samin Wakil Ketua PCNU Ketapang.

Selain itu materi berikutnya, lanjut Samin adalah Pengelolaan dan Pelayanan Masjid Menuju Pelayananan Umat yang
Rahmatan Lil ‘Alamin. Terakhir Rencana Tindak Lanjut (RTL) Hasil Kegiatan.

Ketua PCNU Ketapang dalam kesempatan sama, mengatakan masjid tidak hanya sebagai kegiatan ibadah mahdhah tetapi jauh daripada itu masjid sebagai pusat peradaban dan sekaligus sebagai pusat pelayanan umat.

Satuki mempertanyakan, kenapa peran masjid menjadi sangat vital? Alasannya karena di jaman Rasulullah Saw masjid ini sebagai pusat dakwah, sebagai sentral dari semua aktivitas umat Islam pada saat itu.

“Bahkan saking pentingnya masjid pada itu dijadikan juga sebagai pusat untuk mengatur strategi peperangan, artinya ini politik,” jelasnya.

Tapi kalau sekarang, lanjut Satuki, kenapa dilarang untuk berpolitik di masjid. Kalau dulu musuhnya hanya satu kafir Quraisy. Kalau sekarang, jamaahnya beragam pilihan politiknya, ada yang merah, biru, kuning dan hijau. Sementara mereka sama-sama umat Islam dan sama-sama jamaah dalam satu masjid.

Melalui manajemen masjid, Ketua PCNU Ketapang berharap agar supaya masjid betul-betul untuk bisa menjadi pusat dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat dan sekaligus sebagai pusat pelayanan bidang kesehatan, sosial dan sebagainya.

Baca juga  PKK Ketapang Gelar Khitanan Massal Gratis dalam rangka HKG PKK ke-51

Lebih lanjut ia katakan, maka kalau masjid diumumkan dana kas setiap hari Jumat mencapai 100 juta bahkan lebih misalnya, tetapi banyak tetangga-tetangganya yang masih miskin kelaparan, maka perlu dipertanyakan peran masjid, tugas dan tanggung jawab pengurus masjid.

“Pada pertemuan kali ini, kita juga ingin menjadikan masjid sebagai benteng Ahlussunah Wal Jama’ah jamaah (Aswaja). Karena untuk mempertahankan amaliah-amaliah NU yang notabenenya Aswaja,” tegasnya.

“Dan yang tidak kalah pentingnya masjid juga supaya bisa menghimpun Sumber Daya Manusia dan ekonomi umat disekitarnya. Sehingga masjid ke depan supaya betul-betul menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat,” ungkapnya.

Sementara Wakil Bupati Farhan, menyambut baik dengan diselenggarakannya kegiatan Workshop Manajemen Masjid oleh PCNU Ketapang. Dengan kegiatan itu menurutnya seluruh peserta bisa bersilaturahmi dan mendapatkan informasi yang baik dari narasumber.

Farhan mengakui bahwa masjid-masjid di Kabupaten Ketapang sudah mulai meningkat kualitas fisiknya dibandingkan dulu sebelum ia menjadi wakil bupati.

Wabup mengakui, bahwa keberadaan rumah ibadah masjid itu juga ternyata mendorong ekonomi masyarakat. Sehingga dalam konteks membangun Kabupaten Ketapang yang bisa ia buat adalah yang paling utama bagaimana rumah ibadah itu bagus.

“Karena saya berkeyakinan dengan rumah ibadah itu bagus insyaallah menjadi sebuah ukuran kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Pada sisi lain, Farhan juga mengajak pengurus masjid untuk selalu memperhatikan jamaahnya. Pengurus harus selalu melihat situasi dan dapat merespon terkait masalah sosial disekitarnya.

“Rumah ibadah bagus tapi ada satu masyarakat yang barangkali menemukan tiba-tiba berhenti kuliahnya karena tidak mampu membayar kuliah. Maka pengurus masjid harus peka dan bisa membantu mereka,” Ujarnya. wd/ (Syafi’ie)